PENGARUH SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMA AZZAWIYAH TANJUNG BATU
DISUSUN OLEH :
Nama : Heri Juanda
NIM : 2011.112.247
Mata Kuliah : Penelitian pengajaran B.I
Dosen
Pengasuh :Drs.
Houtman, M.Pd.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas PGRI Palembang
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Penelitian
Dalam Proses Belajar
Mengajar (PBM) sangat memerlukan peran aktif guru dalam memberikan pengetahuan
bagi para muridnya, sehingga menghasilkan peserta didik yang berhasil guna dan
siap untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di samping itu,
materi/ bahan ajar yang diberikan harus memperhatikan keadaan masyarakat
setempat. Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
“Pendidikan Nasional
adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang
berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”.
Dalam rangka
merealisasikan peraturan tersebut di atas, PBM perlu ditata secara
terkoordinasi, terpadu, efektif dan efisien. Belajar merupakan proses perubahan
keseluruhan aspek tingkah laku secara progresif dan terus menerus sepanjang
hayat. Proses perubahan tingkah laku dari hasil belajar merupakan suatu
kecakapan nyata (actual ability) atau juga disebut prestasi belajar.
Mengingat sarana dan
prasarana merupakan salah satu faktor penentuan terhadap prestasi belajar
siswa, maka persyaratan dan penggunaan sarana pembelajaran harus mengacu pada
tujuan pembelajaran, metode, penilaian minat siswa dan kemampuan guru.
Penggunaan sarana
pembelajaran dilakukan secara efektif dan efisien dengan mengacu pada proses
belajar mengajar di sekolah dan sejauh pihak sekolah belum memiliki sarana
pembelajaran yang memadai dilakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Pada
umumnya sekolah-sekolah terutama yang berada di daerah pelosok sangat
membutuhkan atau kekurangan sarana pembelajaran yang memadai. Sementara di sisi
lain pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan tidak berdaya dengan banyaknya
pengajuan penambahan maupun perbaikan sarana pembelajaran yang ada mengingat
terbatasnya anggaran yang tersedia.
Dengan kenyataan
sarana pembelajaran yang ada seperti di atas sementara sistem sekolah yang ada
dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berprestasi (bermutu) dan dapat melanjutkan
ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Sementara para pelaksana di lapangan
dalam hal ini guru harus berupaya mencari berbagai alternatif sebagai solusi.
Banyak sekolah yang sukses mengatasi masalah tersebut tetapi tidak sedikit
sekolah dasar yang akhirnya gagal karena para gurunya tidak mampu mengatasi
kendala sarana pembelajaran tersebut. Mungkin juga perhatian masyarakat di
sekitarnya kurang bahkan tidak peduli dengan kondisi tersebut.
Dari kondisi dan
keadaan yang demikian penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian terhadap
permasalahan tersebut dengan judul “PENGARUH SARANA DAN PRASRANA PEMBELAJARAN TERHADAP
PRESTASI BELAJAR SISWA di SMA AZZAWIYAH TANJUNG BATU”.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang penelitian di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apa
sarana dan prasarana pembelajaran yang diperlukan sekolah untuk mendukung
proses belajar mengajar di SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu ?
2. Bagaimanakah
pengaruh sarana pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa di SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu ?
1.3 Tujuan
Penelitian
Berdasarkan masalah
di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui
sarana dan prasarana pembelajaran yang diperlukan sekolah untuk mendukung
proses belajar mengajar di SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu
2. Untuk
menganalisis sejauh mana pengaruh sarana pembelajaran di SMA SWASTA Tanjung Batu?
1.4 Manfaat
Penelitian
1. Bagi Guru, dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan acuan dalam
pelaksanaan pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan pada tahun pelajaran
yang akan datang.
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan displin dalam belajar, merasa aman,
nyaman, dan senang mengikuti pelajaran walau sarana dan prasarana kurang
memadai.
3. Bagi
Penulis, dapat menambah wawasan dan dapat mengetahui bagaimana
sesungguhnya pengaruh pemanfaatan sarana prasarana dengan motivasi
belajar siswa, serta dapat dijadikan bahan untuk penelitian selanjutnya dan
yang relevan dengan permasalahan penelitian ini.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1 Pengertian
Sarana dan Prasarana Pembelajaran
. Dalam khazanah peristilahan pendidikan sering
disebut-sebut istilah sarana dan prasarana pendidikan. Kerap kali istilah itu
digabung begitu saja menjadi sarana-prasarana pendidikan. Dalam bahasa Inggris
sarana dan prasarana itu disebut dengan facility (facilities).
Jadi, sarana dan prasarana pendidikan akan disebut educational
facilities. Sebutan itu jika diadopsi ke dalam bahasa Indonesia akan
menjadi fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan artinya segala
sesuatu (alat dan barang) yang memfasilitasi (memberikan kemudahan) dalam
menyelenggarakan kegiatan pendidikan.
“ Sarana pendidikan sebagai segala
macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan”.
“ Prasarana pendidikan adalah segala
macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
Tentu definisi tersebut tidak punya makna yang jelas
dan tegas, karena istilah secara langsung dan tidak langsung itu tak jelas
maknanya, tak jelas ujudnya seperti apa. Tegasnya: langsung terhadap apa, atau
pada apa? Untuk
sementara, itu dapat dimaknai bahwa sarana pendidikan adalah segala macam alat
yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar, sementara prasarana pendidikan
tidak digunakan dalam proses atau kegiatan belajar-mengajar. Namun demikian
masih tetap belum jelas tegas benar. Oleh karena itu, mari kita perjelas.
Erat terkait dengan sarana dan prasarana pendidikan
itu, dalam daftar istilah pendidikan dikenal pula sebutan alat bantu
pendidikan (teaching aids), yaitu segala macam
peralatan yang dipakai guru untuk membantunya memudahkan melakukan kegiatan
mengajar. Alat bantu pendidikan ini yang pas untuk disebut sebagai sarana
pendidikan.
Jadi, sarana
pendidikan adalah segala macam peralatan yang digunakan guru untuk memudahkan
penyampaian materi pelajaran.
Jika dilihat dari
sudut murid, sarana pendidikan adalah segala macam peralatan yang
digunakan murid untuk memudahkan mempelajari mata pelajaran. .
prasarana pendidikan adalah segala macam
peralatan, kelengkapan, dan benda-benda yang digunakan guru (dan murid) untuk
memudahkan penyelenggaraan pendidikan.
Perbedaan sarana pendidikan dan prasarana pendidikan
adalah pada fungsi masing-masing, yaitu
“Sarana pendidikan untuk “memudahkan penyampaian/mempelajari
materi pelajaran,
” Prasarana pendidikan untuk “memudahkan penyelenggaraan
pendidikan.
” Dalam makna inilah sebutan “digunakan langsung” dan
“digunakan tidak langsung” dalam proses pendidikan seperti telah disinggung di
muka dimaksudkan. Jelasnya, disebut “langsung” itu terkait dengan penyampaian
materi (mengajarkan materi pelajaran), atau mempelajari pelajaran. Papan tulis,
misalnya, digunakan langsung ketika guru mengajar (di papan tulis itu guru
menuliskan pelajaran). Meja murid tentu tidak digunakan murid untuk menulis
pelajaran, melainkan untuk “alas” murid menuliskan pelajaran (yang dituliskan
di buku tulis; buku tulis itulah yang digunakan langsung)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Pendekatan dan Jenis
Penelitian
Dalam
penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang memiliki
karakteristik alami (natural setting)
sebagai sumber data lansung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada
hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa
induktif dan makna merupakan hal yang esensial.
Ada 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif, yaitu: etnografis,
studi kasus, grounded theory, interaktif, partisipatories, dan penelitian
tindakan kelas.
Dalam
hal ini penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus (case study), yaitu: suatu penelitian
yang dilakukan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan
sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok,
lembaga, atau masyarakat.
3.2.
Kehadiran Peneliti
Ciri
khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan
serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya.
Untuk
itu, dalam hal ini peneliti adalah sebagai instrumen kunci, partisipasi penuh
sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain adalah sebagai
penunjang.
3.3.
Lokasi Penelitian
Penelitian
ini berlokasi di SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu karena di dasarkan pada beberapa
pertimbangan:
· SMA adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki
konotasi sarana dan prasarana yang tidak begitu baik menurut pandangan
masyarakat. Oleh karna itu penulis melakukan penelitian ini yang berlokasi di
SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu.
3.4.
Sumber Data
Sumber
data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya
adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya.
Dengan
demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tidakan sebagai
sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan catatan tertulis adalah
sumber data tambahan.
3.5.
Prosedur Pengumpulan Data
Tehnik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab
bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti maknanya secara baik,
apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan
observasi pada latar, dimana fenomena tersebut berlansung dan di samping itu
untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis
oleh atau tentang subyek).
· Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud
digunakannya wawancara anatara lain adalah
(a)
mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan,
motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain.
(b)
mengkonstruksikan kebulatan-kebulatan demikian yang dialami masa lalu.
Dalam penelitian ini
teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah wawancara mendalam artinya
peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan
fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam penelitian dapat
terkumpul secara maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive
Sampling yaitu pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan
peneliti.
Sedangkan jumlah informan yang diambil
terdiri dari:
1). Kepala Sekolah SMA
AZZAWIYAH Tanjung Batu.
2). Guru Bimbingan dan
Penyuluhan SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu.
3). Seluruh Siswa kelas
3 SMA AZZAWIYAH Tanjung Batu.
· Teknik Observasi, dalam penelitian
kualitatif observasi diklarifikasikan menurut tiga cara. Pertama,
pengamat dapat bertindak sebagai partisipan atau non partisipan. Kedua,
observasi dapat dilakukan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga,
observasi yang menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini
digunakan tehnik observasi yang pertama di mana pengamat bertindak sebagai
partisipan.
· Tehnik Dokumentasi, digunakan untuk
mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan
rekaman.
“Rekaman” sebagai setiap tulisan atau
pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan
tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa atau memenihi accounting. Sedangkan “Dokumen” digunakan untuk mengacu atau
bukan selain rekaman, yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan
tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto dan
sebagainya.
3.6.
Analisa Data
Setelah
semua data terkumpul, maka langka berikutnya adalah pengelolahan dan analisa
data. Yang di maksud dengan analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,
dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,
menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,
memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga
mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.
Analisis
data dalam kasus ini menggunakan analisis data kualitatif, maka dalam analisis
data selama di lapangan peneliti
menggunakan model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di
sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, yaitu:
1. Pada tahap penjelajahan dengan tehnik pengumpulan data grand tour question, yakni pertama
dengan memilih situasi sosial (place,
actor, activity),
2. Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan
menetapkan seseorang informan “key
informant” yang merupakan informan yang berwibawa dan dipercaya mampu
“membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian. Setelah itu
peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil
wawancara. Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai
mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil
wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara selanjutnya peneliti
melakukan analisis domain.
3. Pada tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus)
analisa data dilakukan dengan analisis taksonomi.
4. Pada tahap selection (dilakukan dengan observasi
terseleksi) selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan
dengan analisis komponensial.
5. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema
peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut, selanjutnya
peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.
3.7.
Pengecekan Keabsahan Temuan
Keabsahan
data merupakan konsep penting yang diperbaruhi dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Derajat kepercayaan
keabsahan data (kredebilitas) dapat diadakan pengecekkan dengan tehnik
pengamatan yang tekun, dan triangulasi.
Ketekunan
pengamatan yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam
situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari.
3.8.
Tahapan-tahapan Penelitian
Tahapan-tahapan
penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir penelitian
yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian.
Tahap-tahap
penelitian tersebut adalah :
(1)
tahap pra lapangan, yang meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih
lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan
lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian
dan menyangkut persoalan etika penelitian.
(2)
tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan
berperan serta sambil mengumpulkan data.
(3) tahap analisis data, yang meliputi analisis selama
dan setelah pengumpulan data;
(4) tahap
penulisan hasil laporan penelitian.
DAPTAR
PUSTAKA
Sugiyono, metode penelitian
pendidikan Bandung: Alfabeta, 2012.
http://tatangmanguny.wordpress.com/2010/04/07/pengertian-sarana-dan-prasarana-pendidikan